Jumat, 06 September 2013

BALAGHOH "ILMU BAYAN"


A.    BALAGHAH
Definisinya yaitu bahwa Balaghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati, dan sesuai dengan situasi, kondisi dan orang-orang yang diajak bicara.
Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar diantara macam-macam uslub (ungkapan). Kebiasaan mengkaji balaghah merupakan modal pokok dalam membentuk tabiat kesastraan dan menggiatkan kembali beberapa bakat yang terpendam.
Unsur-unsur Balaghah adalah kalimat, makna dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat bicaranya, waktu, tema, kondisi para pendengar dan emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai mereka. Pada masa yang lalu para sastrawan tidak menyenangi penggunaan kata ‘aidhan’. Mereka menganggap kata tersebut monopoli para ilmuwan. Oleh karena itu, mereka tidak mau menulisnya dalam syair maupun tulisan prosa mereka.
Suatu hal yang perlu diperhatikan dengan serius oleh seorang ahli balaghah adalah :
·        mempertimbangkan beberapa ide yang bergejolak dalam jiwanya. Ide yang dikemukakan itu harus benar, berbobot dan menarik sehingga memberi kesan sebagai hasil kreasi seseorang yang berwawasan utuh dan bertabiat lembut dalam merangkai dan menyusun ide.
·        memilih kata-kata yang jelas, meyakinkan, dan sesuai. Lalu menyusunnya dengan susunan yang indah dan menarik.
Jadi, balaghah itu tidak terletak pada kata per kata, juga tidak pada makna saja, melainkan balaghah adalah kesan yang timbul dari keutuhan paduan keduanya dan keserasian susunannya.
B.      ILMU BAYAN
1.      TASYBIH (Penyerupaan)
v Kaidah :
·              Tashbih Adalah penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal yang lain. Penjelasan tersebut menggunakan huruf ك atau sejenisnya baik tersurat maupun tersirat.
·              Unsur Tasybih ada empat yaitu :
1)    musyabbah,  Sesuatu yang hendak diserupakan.
2)    musyabbah bih, Sesuatu yang diserupai
 (kedua unsur ini disebut sebagai tharafait-tasybih/dua pihak yang diserupakan)
3)    adat tasybih, Huruf / kata yang menyatakan penyerupaan. Contoh : ,  ك  , كأن
4)    wajah syibeh, Sifat yang terdapat pada kedua pihak. Wajah syibeh pada musyabbah bih diisyaratkan lebih kuat dan lebih jelas daripada musyabbah.

Contoh syair:
Al-Ma’arri menyatakan tentang seseorang yang dipujanya:
أنت كالشّمس فى الضّياء وإنجا وزت كيوان فى علوّ المكان
(Engkau bagaikan matahari yang memancarkan sinarnya walaupun kau berada di atas planet Pluto di tempat yang paling tinggi).
Syair di atas menjelaskan bahwa si penyair tahu orang yang dipujanya memiliki wajah bercahaya dan menyilaukan mata, lalu ia ingin membuat perumpamaan yang memiliki sifat paling kuat dalam hal menerangi dan ternyata ia tidak menjumpai suatu hal pun yang lebih kuat daripada sinar matahari. Maka ia menyempurnakannya dengan matahari, dan untuk itu ia bubuhi huruf ك (kata perumpamaan/seperti).

v  Pembagian Tasybih :
Ø   Ditinjau dari ada tidaknya alat tasybih :
1) Tasybih Mursal adalah tasybih yang disebut adat tasybihnya. Contoh:
أنا كالماء إنرضيت صفاء وإذاما سخطت كنت لهيبا
(Bila aku rela, maka aku setenang air yang jernih; dan bila aku marah, maka aku sepanas api menyala).

2)    Tasybih Mu’akkad adalah tasybih yang dibuang adat tasybihnya.
Contoh:
انت نجم فى رفعة وضياء تجتليك العيون شرقا وغربا
(Kedudukanmu yang tinggi dan kemashyuranmu bagaikan bintang yang tinggi lagi bercahya. Semua mata, baik di belahan timur maupun barat, menatap ke arahmu).

Ø   Ditinjau dari ada tidaknya wajh syibh :
3)    Tasybih Mujmal adalah tasybih yang dibuang wajah syibehnya.
Contoh:
وكأنّ الشّمس المنيرة دينار جلته حدائد الضّرّاب
(Matahari yang bersinar itu sungguh bagaikan dinar {uang logam} yang tampak kuning cemerlang berkat tempaan besi cetakannya).

4)    Tasybih Mufashshal adalah tasybih yang disebut wajah syibehnya. Contoh:
سرنا فى ليل بهيم كأنّه البحر ظلاما وإرهابا
(Aku berjalan pada suatu malam yang gelap dan menakutkan, bagaikan berjalan di tengah laut).

Ø    Dilihat dari segi ada tidaknya adat dan wajh syibh :
5)    Tasybih Baligh adalah tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajah syibehnya.
 Contoh:
النّشر مسك والوجوه دنا نير واطراف الأكفّ عنم
(Baunya yang semerbak itu bak minyak kesturi, wajah-wajahnya yang berkilauan bak dinar {uang logam} dan ujung-ujung telapak tangannya merah bak pacar).

Ø    Dilihat dari bentuk wjh syibhnya :
6)    Tasybih Tamtsil adalah tasybih yang wajah syibehnya merupakan gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal / menyeluruh,
7)    Ghairi Tamtsil  adalah tasybih yang wajah syibehnya tidak terdiri dari rangkaian gambaran beberapa hal. Wajah syibehnya terdiri atas satu hal (mufrad).
Contoh tamtsil :
والماء يفصل بين روض الزّهر فىالشّطّين فصلا
كبساط وشي جرّدت ايدي القيون عليه نصلا
(Sungai memisahkan taman bunga itu pada kedua pinggirnya, bagaikan baju sulaman yang dihamparkan, sedangkan di atasnya tergeletak sebilah pedang yang telah terhunus dari sarungnya).

Ø     Tasybih yang keluar dari kebiasaan:
8)    Tasybih Dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hukum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.
Contoh :
قد يشيب الفتى و ليس عجيبا ان يرى النّور فى القضيب الرّطيب
(Kadang-kadang seorang pemuda beruban dan hal ini tidaklah mengerankan. Bunga pun dapat keluar pada dahan yang muda dan lembut).
Dalam syair di atas penyair tidak mengungkapkan tasybih yang jelas karena ia tidak berkata bahwa seorang pemuda yang telah beruban itu bagaikan dahan muda yang berbunga melainkan ia menyatakannya secara implisit (tersirat).

9)    Tasybih Maqlub (penyerupaan yang terbalik) adalah menjadikan musyabbah sebagai musyabbah bih dengan mendakwakan bahwa titik keserupaannya lebih kuat pada musyabbah.
Contoh :
كأنّ سناها باالعشيّ لصبحها تبسّم عيس حين يلفظ باالوعد
(Seakan-akan cahaya awan di sore hari sampai menjelang pagi itu adalah senyuman Isa ketika mengucapkan janji).
Penyair menyerupakan cahaya awan yang terus menerus memantul sepanjang malam dengan senyuman orang yang dipujinya ketika menjanjikan pemberian. Padahal sudah pasti bahwa pantulan cahaya awan itu lebih kuat daripada pantulan cahaya senyuman. Dan yang biasa kita dengar adalah senyuman diserupakan dengan pantulan cahaya awan, sebagaimana kebiasaan para penyair. Akan tetapi penyair menyatakan tasybih yang sebaliknya.


v     Maksud dan tujuan tasybih  adalah:
(yang semuanya kembali kepada musyabbah / terkadang kembali kepada musyabbah bih)  
§  Menjelaskan kemungkinan adanya sesuatu hal pada musyabbah
§  Menjelaskan keadaan musyabbah
§  Menjelaskan kadar keadaan musyabbah
§  Menegaskan keadaan musyabbah
§  Memperindah atau memperburuk musyabbah

0 komentar: